Pemilu presiden sebagai sarana memilih pemimpin telah usai. Ada pihak yang gembira, ada juga yang kecewa. Pihak yang gembira, tentu saja yang hasilnya sesuai pilihannya, begitu pula sebaliknya.
Terlepas dari penilaian apakah pemimpin terpilih dalam pilpres yang lalu baik atau tidak baik, cakap atau tidak cakap, dan seterusnya, seorang pemimpin terpilih di negeri manapun, adalah cerminan masyarakat pemilihnya.
Jika simbah analogikan, adalah seperti jika anda menebar bibit ikan yang sebagian besar sakit di satu kolam, kemudian dengan tangan anda ambil kembali, tentu saja jangan mengharapkan mendapatkan seekor ikan yang sehat, sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan hal tersebut, bahkan hampir mustahil. Lain halnya jika yang kita sebar tadi adalah bibit ikan yang berkualitas, tentu kita tidak akan kesulitan jika harus mengambil ikan yang berkualitas pula. Hal ini sudah merupakan sunnatullah, hukum sebab akibat.
Jika kita bukanlah masyarakat yang baik, bukankah wajar belaka jika pemimpin kita adalah seorang yang brengsek ? Jika kita adalah masyarakat yang curang, wajar belaka jika pemimpin kita adalah seorang yang curang? Bukankah pemimpin para preman adalah preman juga? Juga sebaliknya, jika kita adalah masyarakat yang cerdas, tentu untuk mendapatkan seorang pemimpin yang cerdas di antara kita bukanlah hal yang sulit.
Sebagian masyarakat tampaknya terlalu antusias -kalau tidak dibilang terbius- dengan apa yang disebut demokrasi. Masyarakat dengan tipe seperti ini sangat mengagung-agungkan demokrasi. Apapun harus berlandaskan demokrasi. Dalam kaitan pilpres yang lalu, mereka sangat mengharapkan memperoleh pemimpin yang berkualitas, sesuai harapan ideal. Akan tetapi mereka tidak sadar, bahwa pemimpin yang baik hanya sangat mungkin diambil dari sekelompok manusia yang baik pula.
Bagaikan pungguk merindukan bulan, demkian kata pepatah. Mungkin demikian gambaran masyarakat ini. Masyarakat menginginkan akibat yang baik, akan tetapi melupakan sebab-sebab untuk memperolehnya.
Seperti juga selembar daun yang berwarna hijau, yakinkah anda bahwa seluruh pewarna daun yang terdapat dalam daun tersebut berwarna hijau? Tidak, sesungguhnya di dalamnya juga terdapat pewarna lain, mungkin kuning, merah, atau yang lainnya. Tetapi mengapa kita melihatnya sebagai daun yang berwarna hijau? Tak lain adalah warna-warna hijau tersebut lebih dominan dibandingkan warna yang lain. Begitulah seharusnya, kita mewarnai negeri ini. Jika anda menginginkan pemimpin yang santun, bentuklah dirimu seperti itu. Jika anda menginginkan pemimpin yang jujur, bentuklah dirimu terlebih dulu seperti itu. Jika anda menginginkan pemimpin yang mau bekerja keras, maka andapun haruslah yang pertama berbuat itu. Demikianlah, jika setiap warga adalah pekerja keras, akan sangat sulit untuk mencari pemimpin yang pemalas bukan?
Singkatnya, dedikasikan seluruh kemampuanmu agar mendapatkan pemimpin yang berkualitas. Seperti yang sudah simbah jelaskan di postingan yang lalu, apapun pekerjaanmu, dedikasikan seluruh kemampuanmu lillahi ta'ala, insya Allah akan tiba waktunya bagi kita untuk memperoleh pemimpin yang berkualitas, yang amanah, yang betul-betul berjiwa pemimpin, yang selama ribuan tahun sejarah peradaban manusia, hal seperti itu hanya kita jumpai dalam masa-masa keemasan Islam. Sampai-sampai sebagian dari kita mengira itu hanyalah dongeng belaka.
Akhirnya, haruslah kita ketahui, pemimpin yang baik, ratu adil, ataupun apalah itu namanya, tidaklah serta merta turun dari langit, kita sendirilah yang harus membentuknya, membentuk habitat yang cocok bagi calon pemimpin sejati, agar kelak akan muncul pemimpin yang hari ini hanya tampak sebagai dongeng belaka...
Selasa, 04 Agustus 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
