Sudah sekian lama anak-anak dan cucu simbah lulus sekolah. Sekian lama sebagian besar dari mereka mengembara, mencari jalan hidup mereka masing-masing. Sehingga jarang ketemu, kalaupun ketemu paling-paling hanya saat mereka sowan ke tempat simbah saat lebaran. Tapi ada juga beberapa yang masih sering nyambangi simbah. Salah satunya Wiro. Cucu simbah yang satu ini mengeluh, karena ia tak seperti kawan-kawannya yang lain, dilihatnya banyak dari kawannya sudah sukses jadi orang, jadi pejabat, pengusaha, pulang kampung mesti bermobil mewah. Mereka mampu mengajak liburan keluarganya di tempat-tempat yang tiket masuknya saja setara gajinya satu bulan penuh, restoran dengan harga semangkok supnya saja ratusan ribu rupiah, sepatu yang harganya jutaan rupiah, dan telpon genggam mainan anak-anak yang harganya tidak bisa ia bayangkan. Sedangkan cucu simbah ini hanyalah seorang tukang pegawai rendahan yang harus siap menjadi bolo dupak, sukses menjalankan tugas tidak dipuji, tetapi jika salah harus siap dimaki-maki.
Ia merasa dirinya gagal, dan malu untuk bertemu dengan teman-teman sekolahnya dulu. Jika saat-saat lebaran mendekat, hatinya semakin was-was, kalo bertemu dengan kawan-kawan lamanya, ia menjadi sangat minder dan merasa dirinya tak sederajat dengan mereka.
Simbah sangat maklum, hal semacam itu sangat lazim terjadi pada orang-orang seperti Wiro ini.
“Wiro cucuku, dengar ya, Sesungguhnya kita ini milik Allah, ingatlah setiap kali ketika engkau baca: Innasholaati wanusuki wamahyaaya wamaamaati lillahi robbil 'alamin. Camkanlah bahwa semua kita ini, simbah, kamu dan teman-temanmu itu milik Allah. Semua sudah diatur oleh Allah. Ingatlah bahwa jika engkau beriman kepada Qadha dan Qadar, itu berarti kita harus yakin bahwa semua itu sudah dijatah dari atas, sudah tertulis ('tertulis' dalam bentuk past tense) di Kitab yang namanya Lauh Mahfudz, yang menuliskan setiap kejadian di alam semesta ini, tidak ada yang terlewat, termasuk berapa detik umurmu dari sejak engkau lahir hingga ajal menjemput, berapa banyak rezekimu, termasuk berapa butir nasi yang masuk melalui kerongkonganmu, bahkan berapa banyak kutu di kepalamu itu, semuanya sudah tertulis”.
Wiro mengangguk, sembari menggaruk kepalanya yang gatal karena memang berkutu.
Simbah melanjutkan, “Sebagai orang yang beriman, ketahuilah, nyawa dan rezeki kita tidak akan bertambah dan tidak akan dikurangi. Yang membedakan diantara kita hanyalah, bagaimana kita mengelola bagian kita tersebut untuk kita dedikasikan bagi Allah semata. Itu sebabnya, bagi yang kebagian sedikit, jangan cemas, Allah maha adil, semua diberi kesempatan yang sama untuk membaktikan bagian yang diperolehnya hanya untuk Allah. Dan bagi yang memperoleh bagian yang banyak, haruslah waspada, apakah sebagian besarnya engkau gunakan untuk kau hambur-hamburkan untuk kemewahan, kesombongan, hedonisme, atau kau berkhidmat untuk Allah, kau gunakan sebagai rahmatan lil 'alamin?. Sungguh beruntung bagi mereka yang mendapatkan jatah yang banyak dan mereka membelanjakannya sebagai baktinya untuk Allah, sebagai sarana mewujudkan rahmatan lil 'alamin. Yang sedikit pun, Allah tidak menghitung berapa banyak yang telah dibelanjakan, tetapi seberapa ikhlasnya engkau membaktikan untuk-Nya Allah memberi pelajaran kepada kita semua melalui sejarah para nabi. Allah mengutus para nabi dari semua lapisan masyarakat. Ada nabi yang raja, seperti Sulaiman a.s, atau orang yang bertubuh kuat, seperti Dawud a.s, atau seorang yang sakit-sakitan seperti Ayyub, atau tukang biasa, seperti Zakaria a.s, Mereka menjadi nabi, untuk dicontoh kaumnya, dan yang membedakan mereka dari kaumnya masing-masing adalah bahwa mereka adalah orang yang paling berbakti kepada tuhannya, tidak peduli dari lapisan mana mereka berasal, bangsawankah, orang kayakah, orang miskinkah, karyawankah. Akan tetapi yang jelas, mereka adalah nomor satu di 'kelas' nya masing-masing”.
“Nah cucuku, jangan berkecil hati, berbakti kepada Allah tidak berkaitan dengan seberapa banyak rezeki yang telah Allah jatah untukmu, melainkan berawal dari niat pekerjaanmu, kau dedikasikanlah setiap pekerjaanmu untuk Allah. Mulailah kau niatkan pekerjaanmu sehari-hari sebagai ibadah kepada Allah semata. Ketika engkau bekerja di kantormu, jangan sampai kau berbuat kecurangan, ikhlaskan semua waktu kerjamu, tenagamu, keringatmu hanya dalam rangka untuk mengabdi kepada Allah semata. Jangan kau curangi atasanmu, jangan kau curangi perusahaanmu, jangan kau curangi bawahanmu, jangan kau curangi masyarakat yang membutuhkan pelayananmu, jangan kau curangi negaramu, dan akhirnya jangan kau curangi timbangan Allah, karena kau tak mungkin mampu. Kau ingatlah bagaimana Umar r.a mendedikasikan hidupnya? Seorang raja yang setiap hari mengalir berpeti-peti emas ke ibukotanya persembahan dari negeri-negeri yang ditaklukkan? Ternyata ia hanyalah seorang berpakaian gembel -karena hanya itulah yang ia miliki- dan kekayaan tidak berarti sama sekali, dan kekayaan itu hanyalah alat untuk memakmurkan seluruh negeri? Itulah dedikasi, dedikasi kepada Allah tuhan semesta alam. Bakti dan keikhlasan adalah nomor satu, bukan jumlahnya.
Kau masih beruntung cucuku, mungkin hikmahnya kau diberi jatah sedikit adalah agar engkau terjaga dari sifat foya-foya, curang, dan hedonistis. Kau lihat mereka di sana, orang-orang yang kau minder jika bertemu mereka, yaitu yang mendapatkan jatah yang jauh lebih banyak darimu, tidak semua dari mereka mampu mensyukurinya, tidak mampu mendedikasikan untuk Rabbnya. Harta yang diperolehnya tidak cukup dari gajinya saja, akan tetapi juga dari cara yang tidak amanah, sepert suap masyarakat (yang terpaksa melakukan karena membutuhkan waktu cepat dalam pengurusan surat-surat), manipulasi kuitansi, manipulasi anggaran, curang dalam menimbang, bahkan dengan jalan riba sementara muaranya hanya untuk bersenang-senang belaka, menyombongkan diri kesana kemari membuang waktu membusungkan dada dengan kendaraan impor yang ternya cuma bisa beli doang (bisa beli doang kok bangga ya?), bikin klub-klub yang jauh dari manfaat, yang hanya membuat orang kafir bangga karena dipuji-puji dalam klub tersebut. Alangkah indahnya apabila mereka mendedikasikan untuk yang sebaliknya: memberikan bantuan kepada teman-teman dan saudaranya yang menganggur agar bisa memperoleh jalan, menolong mereka yang sakit dan tak mampu berobat karena tidak memiliki biaya, atau kegiatan menyelamatkan lingkungan, hutan, pantai, udara, ataupun menolong sekolah-sekolah dan madrasah yang hampir ambruk..
Ya, alangkah indahnya, tetapi hal itu di alam yang menuhankan demokrasi seperti sekarang ini tampaknya hanyalah utopia...
Selasa, 28 Juli 2009
Sabtu, 25 Juli 2009
Belajar dari orang yang kita benci
Hari-hari terakhir ini kita disuguhi berita-berita mengenai pengeboman di Jakarta. Apapun yang kita lihat di media massa, Simbah jadi teringat ada suatu jenis beladiri di Jepang, yaitu Aikido, yang menggunakan tenaga lawan untuk menundukkan atau melumpuhkan lawan itu sendiri. Dan ternyata teknik ini memang benar-benar cukup dapat diandalkan.
Dari itu, mengapa kita tidak belajar dari cara kerja teroris yang kita sangkakan melakukan bombing di banyak tempat? Mereka bekerja secara kultur sel. Satu sel bisa menular ke kelompok lain dan membentuk sel baru. Dan begitulah seterusnya. Jika kita tidak bisa memutus rantai ini, tentu saja kita masih pantas untuk merasa was-was.
Alangkah baiknya jika kita menggunakan cara kerja seperti itu untuk membantu ekonomi rakyat kita, terutama di pesisir (baca: nelayan). Realitanya, banyak nelayan kita adalah nelayan tradisional, yang saat ini jangankan untuk menabung guna meningkatkan kemampuan perahunya, membeli bbm solar saja kadang masih harus dicampur minyak tanah.
Para nelayan ini menggunakan perahu-perahu kecil yang hanya mampu beroperasi di dekat-dekat pantai saja, sementara dilautan lepas kapal asing pencuri ikan dengan bangga mengambil ikan jarahannya.
Intinya, nelayan kita kalah dalam hal teknologi dan kemampuan pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah.
Hitung-hitung, alangkah baiknya bila para nelayan ini berkumpul, daripada masing-masing punya perahu kecil-kecil, mbok iya beberapa nelayan berkumpul membikin semacam koperasi, bikin perahu atau kapal yang lebih besar, dan tentu saja dengan peralatan yang lebih canggih, agar bisa lebih ekonomis, dan jelas profitable, dan dengan manajemen yang baik, sebagian hasilnya ditabung untuk kemudian dibelikan (syukur dibuat oleh tangan orang-orang kita sendiri) kapal besar serupa, untuk dikelola seperti kapal yang pertama. Begitu seterusnya. Jadi kalu kita lihat, mirip dengan pembiakan sel, dari satu menjadi dua, dari dua menjadi empat, dan seterusnya. Insya Allah, dengan dukungan dan dedikasi masyarakat, bangsa kita bisa menjadi bangsa maritim yang sesungguhnya, bangsa pelaut, bangsa yang menguasai dan menjaga lautnya sendiri, bangsa yang makan dari hasil lautnya sendiri, bukan bangsa yang menggadaikan harga dirinya dengan hutang kepada rentenir internasional dengan jumlah yang tidak masuk di akal !
Dari itu, mengapa kita tidak belajar dari cara kerja teroris yang kita sangkakan melakukan bombing di banyak tempat? Mereka bekerja secara kultur sel. Satu sel bisa menular ke kelompok lain dan membentuk sel baru. Dan begitulah seterusnya. Jika kita tidak bisa memutus rantai ini, tentu saja kita masih pantas untuk merasa was-was.
Alangkah baiknya jika kita menggunakan cara kerja seperti itu untuk membantu ekonomi rakyat kita, terutama di pesisir (baca: nelayan). Realitanya, banyak nelayan kita adalah nelayan tradisional, yang saat ini jangankan untuk menabung guna meningkatkan kemampuan perahunya, membeli bbm solar saja kadang masih harus dicampur minyak tanah.
Para nelayan ini menggunakan perahu-perahu kecil yang hanya mampu beroperasi di dekat-dekat pantai saja, sementara dilautan lepas kapal asing pencuri ikan dengan bangga mengambil ikan jarahannya.
Intinya, nelayan kita kalah dalam hal teknologi dan kemampuan pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah.
Hitung-hitung, alangkah baiknya bila para nelayan ini berkumpul, daripada masing-masing punya perahu kecil-kecil, mbok iya beberapa nelayan berkumpul membikin semacam koperasi, bikin perahu atau kapal yang lebih besar, dan tentu saja dengan peralatan yang lebih canggih, agar bisa lebih ekonomis, dan jelas profitable, dan dengan manajemen yang baik, sebagian hasilnya ditabung untuk kemudian dibelikan (syukur dibuat oleh tangan orang-orang kita sendiri) kapal besar serupa, untuk dikelola seperti kapal yang pertama. Begitu seterusnya. Jadi kalu kita lihat, mirip dengan pembiakan sel, dari satu menjadi dua, dari dua menjadi empat, dan seterusnya. Insya Allah, dengan dukungan dan dedikasi masyarakat, bangsa kita bisa menjadi bangsa maritim yang sesungguhnya, bangsa pelaut, bangsa yang menguasai dan menjaga lautnya sendiri, bangsa yang makan dari hasil lautnya sendiri, bukan bangsa yang menggadaikan harga dirinya dengan hutang kepada rentenir internasional dengan jumlah yang tidak masuk di akal !
Langganan:
Postingan (Atom)
