Hari-hari terakhir ini kita disuguhi berita-berita mengenai pengeboman di Jakarta. Apapun yang kita lihat di media massa, Simbah jadi teringat ada suatu jenis beladiri di Jepang, yaitu Aikido, yang menggunakan tenaga lawan untuk menundukkan atau melumpuhkan lawan itu sendiri. Dan ternyata teknik ini memang benar-benar cukup dapat diandalkan.
Dari itu, mengapa kita tidak belajar dari cara kerja teroris yang kita sangkakan melakukan bombing di banyak tempat? Mereka bekerja secara kultur sel. Satu sel bisa menular ke kelompok lain dan membentuk sel baru. Dan begitulah seterusnya. Jika kita tidak bisa memutus rantai ini, tentu saja kita masih pantas untuk merasa was-was.
Alangkah baiknya jika kita menggunakan cara kerja seperti itu untuk membantu ekonomi rakyat kita, terutama di pesisir (baca: nelayan). Realitanya, banyak nelayan kita adalah nelayan tradisional, yang saat ini jangankan untuk menabung guna meningkatkan kemampuan perahunya, membeli bbm solar saja kadang masih harus dicampur minyak tanah.
Para nelayan ini menggunakan perahu-perahu kecil yang hanya mampu beroperasi di dekat-dekat pantai saja, sementara dilautan lepas kapal asing pencuri ikan dengan bangga mengambil ikan jarahannya.
Intinya, nelayan kita kalah dalam hal teknologi dan kemampuan pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah.
Hitung-hitung, alangkah baiknya bila para nelayan ini berkumpul, daripada masing-masing punya perahu kecil-kecil, mbok iya beberapa nelayan berkumpul membikin semacam koperasi, bikin perahu atau kapal yang lebih besar, dan tentu saja dengan peralatan yang lebih canggih, agar bisa lebih ekonomis, dan jelas profitable, dan dengan manajemen yang baik, sebagian hasilnya ditabung untuk kemudian dibelikan (syukur dibuat oleh tangan orang-orang kita sendiri) kapal besar serupa, untuk dikelola seperti kapal yang pertama. Begitu seterusnya. Jadi kalu kita lihat, mirip dengan pembiakan sel, dari satu menjadi dua, dari dua menjadi empat, dan seterusnya. Insya Allah, dengan dukungan dan dedikasi masyarakat, bangsa kita bisa menjadi bangsa maritim yang sesungguhnya, bangsa pelaut, bangsa yang menguasai dan menjaga lautnya sendiri, bangsa yang makan dari hasil lautnya sendiri, bukan bangsa yang menggadaikan harga dirinya dengan hutang kepada rentenir internasional dengan jumlah yang tidak masuk di akal !
Sabtu, 25 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar tidak boleh berbau Pornografi dan Sara
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.